19 December 2008

Bom Waktu Holocaust


Oleh Adhi Darmawan

Selama hampir enam tahun Perang Dunia II berkecamuk, dari mulai tanggal 1 September 1939 sampai dengan 14 Agustus 1945. Adolf Hitler, diktator nazi saat itu, ingin menjadikan bangsa Jerman dapat menguasai dunia. Konon dalam peristiwa tersebut, Hitler melakukan pemusnahan orang-orang Yahudi dari muka bumi ini secara besar-besaran. Inilah yang sampai sekarang orang sebut dengan Holocoust.
Dalam rangkaian cerita Holocoust, untuk menyiksa musuh-musuhnya, Hitler membangun banyak camp konsentrasi di seluruh benua Eropa yang kemudian para perempuan, laki-laki sampai dengan anak-anak Yahudi diusir dari rumah mereka dan dikirim ke camp tersebut. Lebih dari lima puluh ribu orang mati dengan mengerikan. Hitler sempat juga memutus rantai ekonomi Jerman dari para predator internasional yang menganut kapitalisme-dan melakukan barter secara bebas antar negara yang menolak untuk masuk perangkap utang yang utamanya dikendalikan oleh lembaga keuangan internasional Yahudi.

Ketika Perang Dunia II berakhir pada tanggal 15 Agustus 1945, seluruh dunia banyak yang berusaha mencari tahu tentang pembunuhan masal atau pemusnahan suatu ras dalam sejarah umat manusia yang terjadi di camp konsentrasi tersebut.
Sekalipun oleh beberapa negara didunia Holocoust hanyalah sebuah mitos, sebagian negara di Eropa bersikeras memandang bahwa Holocoust adalah peristiwa yang benar-benar ada, dimana dalam Holocoust jutaan warga Yahudi tak berdosa telah dibunuh oleh Hitler pada Perang Dunia II. Oleh karena itu, beberapa Negara di dunia yang mendukung kebenaran dari mitos ini mendukung agar bangsa Yahudi diberikan sebagian wilayah untuk membangun Negara.

Sampai sekarang, kebenaran dari kisah Holocoust sendiri masih Pro dan Kontra, hal ini merupakan dampak dari sikap negara-negara Eropa, terutama Amerika Serikat, yang sangat tertutup tentang Holocoust, beberapa negara- negara Eropa memenjarakan setiap orang yang mempertanyakan tiga hal tersebut dan berusaha mengungkap fakta sebenarnya dari Holocoust. Holocoust sepertinya menjadi sangat sakral untuk dikritik ataupun diungkap, sekalipun dalam meja diskusi. Holocoust dilindungi secara legal.

Salah satu negara yang menganggap Holocoust hanyalah sebuah mitos adalah Iran. Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad mengungkapkan bahwa Israel diciptakan atas dasar mitos Holocaust. Dimana Holocaust adalah sebuah kebohongan. Iran adalah satu-satunya negara di mana rakyatnya melihat bahwa Holocaust adalah kebohongan yang di reka-reka.

Ahmadinejad dan barisan pendukung orang yang menolak kebenaran Holocoust menganggap bahwa tiga hal utama yang mendukung kebenaran Holocaust tidak dapat terbukti, sehingga nuansa yang ada dari keberadaan Holocoust lebih kental muatan politisnya dari pada kebenaran sejarah.

Tiga hal utama yang mendukung kebenaran Holocaust tetapi tidak dapat terbukti menurut mereka yang pertama, soal Jerman-Hitler yang secara sistematis memusnahkan Yahudi Eropa. Tidak ada bukti yang kuat untuk klaim ini, yang ada hanyalah perpindahan orang-orang Yahudi. Yahudi Zionis dan Yahudi Jerman tiba di Palestina dengan harta benda mereka. Yahudi lainnya pindah ke luar wilayah Jerman dan Auschwitz pada sebuah kamp tempat transit.

Kedua, soal pembunuhan besar-besaran yang dilakukan di kamar-kamar eksekusi dengan menggunakan gas kimia. Secara teknis, hal itu tidak mungkin terjadi karena waktu yang dibutuhkan sangatlah lama, karena faktanya tidak seorangpun yang menemukan bukti dari kebenaran hal ini.

Ketiga, 6 juta bangsa Yahudi yang dibunuh juga tidaklah terbukti - meskipun pada satu waktu jumlah Yahudi yang dibunuh di Auschwitz kemudian diklaim sebanyak 4 juta orang, tetapi kemudian yang di klaim turun menjadi 1-1,5 juta, dan sekarang malah yang disebut sekitar 500 ribu orang.

Fakta bahwa orang-orang Yahudi dipindahkan ke luar Eropa sampai sangat menderita karena pemindahan itu, dan kemudian di-gas karena Hitler membenci mereka sampai semuanya tewas, menurut Ahmadinejad adalah kebohongan besar.

Mengenai kebenaran dari Holocoust, Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad telah mengakui jika Holocoust adalah sebuah kebenaran dan fakta, tiga hal tersebut seharusnya terlebih dahulu harus diungkap.

Nuansa politis yang tampak dari mitos Holocoust, yaitu ketika sekutu yang terdiri dari Inggris, AS, Rusia, dan Perancis menjadi kontrol kekuatan Jerman di Eropa melalui mitos Holocaust. Keinginan Jerman untuk menjadi yang dominan di Eropa berhasil dikendalikan Negara persekutuan itu. Pemusnahan bangsa Jerman dari Jerman dilakukan terhadap bangsa Jerman yang pernah menjadi bagian dari Nazi dan mereka yang tidak mempercayai adanya Holocaust.

Adanya pembasmian orang Jerman sebagai sebuah etnis di Negara Jerman. Banyak dilihat orang Jerman sendiri sebagai Holocaust-nya orang Jerman yang dilakukan dengan dalih multikulturalisme, di mana orang-orang Jerman digantikan oleh orang-orang dari seluruh belahan dunia. Orang Jerman bukan lagi tuan rumah di negerinya sendiri. Ini sama dengan jika warga Kurdi dan Turki yang datang ke Iran berhasil mengambil alih pemerintahan.

Reaksi histeris para pemimpin dunia akan pernyatan Ahmadinejad yang mengkritik Holocoust, mengindikasikan bahwa Zionis memiliki kekuatan baik secara individual maupun di pemerintahan-pemerintahan. Di negara-negara Eropa, Yesus, Bunda Maria dan sebagainya boleh dikritik ataupun dihina, akan tetapi Yahudi dan 'Holocaust'nya tidak boleh dikritisi, Holocaust pun sangat disakralkan melebihi agama.

Beberapa orang lainnya juga sudah menerbitkan laporan serupa. Fritjof Meyer- dari kelompok sayap kiri di Jerman- menyatakan bahwa Auschwitz itu sendiri bukan sebuah kamp pembunuhan atau peng-gas-an, tapi pembunuhan dengan menggunakan gas beracun itu terjadi di dua rumah di tanah pertanian di luar kamp Auschwitz-Birkenau. Sampai detik ini, tidak seorangpun yang menemukan sisa-sisa rumah di tanah pertanian itu.

Sekarang, perkembangan warga dunia semakin berani berbicara tentang Holocoust. Warga dunia sudah mulai banyak yang menantang, jika Holocaust itu benar, maka harus dibuktikan di pengadilan. Di Jerman penentangan itu dianggap sebagai hasutan dan bisa terkena tuduhan pelanggaran rasial. Kontroversi ini juga menimbulkan masalah antara negara Jerman dengan Turki, ketika Jerman menuntut seorang penulis Turki yang dengan berani mengungkapkan tentang Armenian 'Holocaust', sebagai sebutan atas peristiwa pembantaian di Turki.

Ahmadinejad Tampil Beda

Lahir di Garmasar, tak jauh dari Teheran pada 1956, Ahmadinejad tak banyak dikenal dunia luar kecuali ketika menduduki kursi walikota Teheran pada 2003. Dari latar belakang akademis, ia mengantongi gelar doktor untuk bidang transportasi dan manajemen lalu lintas dari Universitas Teheran.

Mahmoud Ahmadinejad, sejak terpilih sebagai presiden Iran Juni lalu, istilah ''kontroversi'' seolah melekat dengan Ahmadinejad. Dari penampilan saja, Ahmadinejad memang beda. Jika para pemimpin negeri mulah ini tampil berbalut jubah khas Iran, Ahmadinejad lebih suka mengenakan setelan jas sederhana tanpa dasi.

Belum lagi soal pemikiran, Ahmadinejad punya pandangan sendiri mengenai Israel. Dunia bahkan sempat menengok ke arahnya gara-gara komentar yang anti-Israel pada Oktober silam. Negeri Zionis itu disebutnya sebagai tumor bagi kawasan Timur Tengah, sehingga harus dihapuskan dari peta dunia.

Dalam pandangan Ahmadinejad, Eropalah --khususnya Jerman dan Austria-- yang membantai jutaan warga Yahudi. Karenanya kaum Yahudi, katanya, bukan malah menduduki Yerusalem, mencaplok tanah dan membunuhi rakyat Palestina.

Dapat ditebak, masyarakat internasional langsung bereaksi keras atas pernyataan ini. Mulai dari Israel, Amerika Serikat (AS), Jerman, hingga Rusia yang selama ini dikenal sebagai negara yang memiliki kedekatan diplomatik dengan Iran. Dari dalam negeri, para reformis menyerang Ahmadinejad dan menyebut pernyataannya itu telah merusak citra Iran. ''Pernyataan presiden telah menghancurkan citra negara yang besar ini,'' kata Ahmad Zeidabadi.

Bahkan politikus senior seperti mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohamad ikut turun tangan. Bedanya, Mahathir hanya meminta Ahmadinejad menahan diri dan sabar. Pernyataan seperti itu, kata Mahathir sebagaimana dikutip kantor berita pemerintah Malaysia, Bernama, hanya memberikan amunisi baru bagi musuh-musuh Iran. Bisa dipahami, jika Mahathir memberikan nasehat seperti itu.
Mahathir sendiri selama ini dikenal sebagai tokoh yang kritis kepada Israel. Oktober 2003, menjelang lengser dari kursi kekuasaan, Mahathir mengagetkan dunia internasional dengan mengatakan Yahudi menguasai dunia melalui kaki tangannya.

Dunia Arab menunjukkan reaksi yang biasa dan sebagian menyatakan bisa menerima pernyataan Ahmadinejad. Begitu pula dengan sejumlah pakar politik internasional yang memahami konstelasi politik Timur Tengah, khususnya Iran. Pengamat politik lainnya menilai pernyataan itu lebih disebabkan karena Ahmadinejad kurang memiliki pengalaman politik internasional yang cukup. Tidak dapat dipungkiri, politik membutuhkan kesantunan dan diplomasi untuk mengemas hal yang sebenarnya.

Namun pakar politik dari teheran, Mahmoud Alinejad, menilai apa yang dikatakan Ahmadinejad bukanlah kalimat yang keluar begitu saja sebagai hasil dari kesalahan politis melainkan sebagai bagian dari sebuah strategi politik Iran.

''Pernyataan bernada menyerang adalah strategi terbaik bagi Iran,'' kata Alinejad. ''Ada pendapat umum dalam sistem Barat yang baku bahwa Iran merupakan sumber kesulitan ... Dengan mengeluarkan pernyataan seperti itu, Iran bisa memaksa AS mengambil langkah yang lebih serius dan memainkan peranannya lebih dalam aspek keamanan di Timur Tengah,'' lanjutnya.

Hal senada juga dikatakan Mustafa Alani, pakar kajian keamanan dan kestabilan politik Gulf Research Center di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) dan anggota parlemen Iran dari kubu garis keras, Emad Afrouq. Alani mengatakan, pernyataan itu merupakan strategi Ahmadinejad untuk terus memelihara sentimen anti-Israel di Timur Tengah dan menunjukkan betapa Ahmadinehad masih sangat mengagungkan Revolusi 1979.

''Presiden yakin, dengan menyerang Israel secara verbal adalah cara terbaik di luar kebijakan politik yang rasional dan sopan,'' kata Alani. Sementara Afrouq menyatakan keyakinannya bahwa yang dikatakan Ahmadinejad adalah hasil konsultasinya dengan pemimpin Iran lainnya, termasuk pemimpin spiritual, Ayatullah Khamenei.

''Pernyataan itu adalah bagian dari strategi untuk tetap mempengaruhi opini internasional mengenai penjajahan Israel atas tanah dan rakyat Palestina. Bukan sebagai dasar bagi pengerahan sebuah kekuatan militer ke Israel,'' tegas Afrouq.

Sama dengan pemimpin Iran lainnya, kehidupan pribadinya tak banyak diketahui. Kecuali bahwa ia dikenal karena hidupnya yang sederhana dan sikap kerasnya kepada koruptor. Tak lama setelah terpilih sebagai presiden, Ahmadinejad menolak tinggal di istana kepresidenan dan memilih tetap tinggal di rumahnya sendiri. Ia juga menolak bepergian dengan pesawat kepresidenan, senilai 200 juta dolar AS. Kesederhanaan memang menjadi lambang Ahmadinejad. Saat membuat situs pribadi, ia pun memilih nama Mardomyar, yang berarti sahabat rakyat.

Di Iran sendiri, beberapa waktu lalu telah memulai konferensi untuk memperdebatkan kebenaran Holocaust dan mempertanyakan apakah Nazi Jerman menggunakan kamar gas untuk membunuh 6 juta orang Yahudi selama Perang Dunia II.
Para tamu acara yang diselenggarakan pemerintah tersebut, dengan judul Review of the Holocaust: Global Vision, meliputi orang Barat yang telah meragukan Holocaust --sebagian dari mereka bahkan berasal dari negara yang telah menetapkan sebagai kejahatan tindakan membantah kejadian itu-- serta beberapa orang Yahudi.
"Tujuan konferensi ini bukan untuk membantah atau mengkonfirmasi Holocaust," kata Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki. "Tujuan utamanya ialah untuk menciptakan peluang bagi pemikir yang tak dapat menyampaikan pandangan mereka secara bebas di Eropa mengenai Holocaust."
Konferensi dua hari tersebut di satu lembaga Kementerian Luar Negeri diilhami oleh Presiden Mahmoud Ahamadinejad, yang sejak memangku jabatan pada Agustus 2005 telah mengundang pengutukan internasional dengan menyebut Holocaust sebagai mitos dan menyebut Israel sebagai tumor.
Ahmadinejad ingin mendorong cendekiawan memperdebatkan dan mengkaji keabsahan berdirinya negara Yahudi.
David Duke, warga negara Amerika yang adalah mantan pemimpin Ku Klux Klan, memuji Iran. "Harus ada kebebasan berbicara, merupakan skandal bahwa Holocaust tak dapat dibahas secara bebas," katanya. Iran telah menyatakan 67 cendekiawan dari 30 negara berencana menghadiri pertemuan tersebut.
Sementara itu Israel, Amerika Serikat dan seorang pemimpin masyarakat Yahudi Iran sendiri --yang berjumlah 25.000 orang-- mengutuk konferensi itu. Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menyebutnya fenomena memuakkan yang memperlihatkan dalamnya kebencian rezim Iran. Departemen Luar Negeri AS pekan lalu mencela pertemuan tersebut sebagai mengecilkan hati. Moris Motamed, satu-satunya wakil Yahudi di parlemen Iran, menggambarkannya sebagai penghinaan besar. Konferensi tandingan diselenggarakan di Berlin, yang didukung pemerintah Jerman, untuk memprotes pertemuan di Teheran itu. Membantah atau meragukan Holocaust tak dapat dibiarkan berlalu tanpa komentar. Kita harus melakukan apa yang dapat kita laksanakan guna menghadapi ini, sebelum itu mulai bergulis di dalam masyarakat kita," kata Thomas Krueger, pemimpin Lembaga Federal bagi Pendidikan Masyarakat, dalam pertemuan di Berlin.
Banyak warga biasa Iran mengaku malu mengenai pertemuan Teheran, yang dilakukan menyusul keputusan Iran untuk mengadakan kompetisi membuat kartun mengenai Holocaust pada Oktober.
Salah seorang dari penulis Prancis, Georges Thiel, yang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan Prancis karena menyebarkan teori revesionis mengenai pembunuhan massal orang Yahudi, mengatakan Holocaust adalah dusta besar. "Orang Yahudi telah dihukum, itu benar, mereka telah dideportasi, itu juga benar, tapi tak ada mesin pembunuhan di kamp mana pun --tak ada kamar gas," katanya di Teheran.
Semangat Ahmadinejad dan pandangan mayoritas warga Iran yang menolak kebenaran Holocaust, ternyata bukan berarti dalam Internal negara Iran sendiri sartu suara. Seorang mantan pejabat senior pemerintah Iran, yang tak ingin disebutkan jati dirinya mengatakan, menjadi tuan rumah konferensi itu tak bijaksana, mengingat tekanan diplomatik yang dihadapi Iran sehubungan dengan program nuklirnya. "Konferensi semacam itu mestinya tak diadakan," katanya.
Seorang Arab Israel yang mendirikan tempat peringatan pertama dalam masyarakatnya mengenai Holocaust mengatakan Iran menolak untuk mengizinkan dia datang. Iran tak memberi visa kepada pemegang pasport Israel atau siapa pun yang di pasportnya terdapat stempel visa Israel. "Saya kecewa karena saya ingin menghadiri konferensi tersebut dan menghadapi mereka yang menolak Holocaust telah terjadi," kata pengacara Khaled Mahameed melalui telepon.

No comments: